Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia Jadi 5,2 Persen


JAKARTA, 6 Oktober 2026 – Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2 persen dari sebelumnya 4,7 persen. Angka tersebut berada di atas proyeksi rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik sebesar 4,5 persen.
Baca juga: Pemutihan Pajak Kendaraan Oktober 2026 di 6 Provinsi : Berita Sindikasi
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia
Kenaikan proyeksi tersebut tercantum dalam laporan Economic Update kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober 2026 yang dirilis pada Selasa (6/10).
Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,5 poin persentase dibandingkan perkiraan dalam laporan April 2026 yang berada di level 4,7 persen.
Berita terkait: Putusan MK Dokumen Ijazah Gibran Disorot, Ini Fakta Suket : Berita Sindikasi
Dengan proyeksi terbaru tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan East Asia and Pacific (EAP) yang diproyeksikan tumbuh 4,5 persen pada 2026.
Proyeksi pertumbuhan EAP juga mengalami revisi naik sebesar 0,3 poin persentase dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,2 persen.
Ekonomi Kawasan Ditopang Aktivitas Teknologi
Bank Dunia menilai ketahanan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik masih terjaga di tengah berbagai tantangan global. Namun, laju pertumbuhan tersebut belum merata antarnegara maupun sektor.
Salah satu faktor yang menopang aktivitas ekonomi sejumlah negara adalah meningkatnya produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi. Kondisi tersebut berkaitan dengan lonjakan aktivitas global yang berhubungan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sejumlah negara di kawasan bahkan mencatat pertumbuhan lebih cepat dari perkiraan. Vietnam menjadi salah satu negara dengan revisi proyeksi terbesar.
Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan Vietnam pada 2026 sebesar 1,1 poin persentase menjadi 7,4 persen. Malaysia juga mengalami revisi naik 0,7 poin persentase menjadi 5,1 persen.
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Thailand naik 0,7 poin persentase menjadi 2 persen.
AI Jadi Peluang Baru Ekonomi Asia Timur dan Pasifik
Bank Dunia menilai integrasi kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam rantai nilai global membuat kawasan tersebut berada pada posisi strategis untuk mendapatkan manfaat dari meningkatnya aktivitas ekonomi global yang berkaitan dengan AI.
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo mengatakan tantangan berikutnya adalah mengubah keunggulan kawasan dalam memproduksi barang terkait AI menjadi pemanfaatan teknologi yang lebih luas.
Menurutnya, adopsi AI dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membuka peluang terciptanya lapangan kerja yang lebih banyak dan berkualitas.
Namun, manfaat perkembangan AI belum dirasakan secara merata. Adopsi teknologi oleh individu dan perusahaan masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk biaya, keterbatasan keahlian, serta persoalan keamanan dan privasi.
Adopsi AI Masih Menghadapi Tantangan
Bank Dunia menilai sebagian besar negara di kawasan dapat memperoleh manfaat dalam jangka pendek dengan mengadopsi dan menyesuaikan teknologi AI yang sudah tersedia.
Pendekatan tersebut disebut sebagai “AI Kecil”, yakni pemanfaatan perangkat AI yang relatif lebih mudah diakses untuk membantu meningkatkan produktivitas tanpa harus membangun teknologi AI dari awal.
Perkembangan teknologi tersebut juga mulai mengubah kebutuhan keterampilan tenaga kerja. Perusahaan semakin mencari kombinasi antara kemampuan menggunakan AI, keterampilan analitis, serta kemampuan sosial.
Meski demikian, teknologi AI belum memberikan dampak besar terhadap pekerjaan yang dapat diotomatisasi di kawasan tersebut. Bank Dunia mencatat hanya 13 persen pekerjaan di EAP yang masuk kategori pekerjaan yang membutuhkan pemikiran dan penilaian kompleks.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju yang mencapai 39 persen.
Bank Dunia Beri Tiga Rekomendasi
Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong terciptanya lapangan kerja yang lebih produktif, Bank Dunia merekomendasikan tiga langkah bagi negara-negara di kawasan.
1. Memperluas Adopsi AI
Negara perlu memperkuat lingkungan bisnis, infrastruktur energi dan digital, akses pembiayaan, serta keterampilan tenaga kerja agar pemanfaatan AI dapat berkembang lebih luas.
2. Menyesuaikan AI dengan Kebutuhan Lokal
Teknologi AI perlu diadaptasi dengan kebutuhan dan kondisi lokal, termasuk melalui penggunaan teknologi berbahasa lokal yang terjangkau.
Bank Dunia menilai sektor dengan kemampuan menyerap banyak tenaga kerja, seperti pariwisata dan agribisnis, dapat menjadi salah satu bidang yang memperoleh manfaat dari pendekatan tersebut.
3. Memperkuat Peran Pemerintah
Pemerintah juga didorong memanfaatkan AI sebagai pengguna sekaligus regulator. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan layanan publik, penguatan fondasi digital, penyusunan regulasi, dan kerja sama regional.
Wakil Presiden Regional IFC untuk Asia dan Pasifik Sarvesh Suri mengatakan sektor swasta memiliki peran penting dalam mendorong pemanfaatan AI untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih baik.
Menurutnya, modal swasta dapat diarahkan untuk mendukung infrastruktur digital dan energi, meningkatkan pendanaan usaha, serta memperkuat keterampilan tenaga kerja.
Proyeksi Pertumbuhan China dan Negara Pasifik
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi negara-negara kepulauan Pasifik pada 2026 diproyeksikan mencapai 2,2 persen. Angka tersebut turun 0,5 poin persentase dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Bank Dunia menilai negara-negara kepulauan Pasifik rentan terhadap tingginya harga bahan bakar dan memiliki ketahanan yang terbatas dalam menghadapi tekanan eksternal.
Sementara itu, China sebagai ekonomi terbesar di kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan tumbuh 4,4 persen pada 2026.
Pertumbuhan ekonomi China masih menghadapi tekanan dari permintaan domestik yang lemah. Kondisi pasar tenaga kerja yang lesu serta penyesuaian yang masih berlangsung di sektor properti turut menjadi faktor yang memengaruhi prospek pertumbuhan.
Dengan proyeksi terbaru tersebut, Bank Dunia melihat Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang relatif kuat di tengah dinamika ekonomi kawasan. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tetap produktif dan mampu menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Penulis : Amanda
Artikel Pertama kali di : Warta Bela Negara – WBN oleh : Amanda
SUMBER ARTIKEL ASLI DISINI SELENGKAPNYA –> Read More
Simak juga: MK Menolak Gugatan, Tapi Benarkan Tak Ada Bukti Ijazah Gibran : Berita Sindikasi













