JAKARTA, 11 Maret 2026 – Perdebatan soal sejarah hubungan Indonesia–Palestina memanas dalam program Rakyat Bersatu di iNews, Selasa (10/3). Adu argumentasi antara Permadi Arya alias Abu Janda dan Feri Amsari berujung ricuh hingga salah satu narasumber diminta meninggalkan studio.
Awal Perdebatan: Peran Amerika Serikat
Abu Janda membuka diskusi dengan menilai masyarakat Indonesia kerap memiliki sentimen anti-Amerika tanpa memahami sejarah.
Ia menyebut Amerika Serikat berkontribusi dalam proses diplomasi Indonesia melawan Belanda pasca-1945.
Namun, Ikrar Nusa Bhakti mengingatkan bahwa dukungan Amerika juga dilatarbelakangi kepentingan global. Ia merujuk karya George McTurnan Kahin untuk menjelaskan konteks tersebut.
“Amerika turun tangan karena ketakutan Indonesia jatuh ke tangan komunis,” ujar Ikrar.
Polemik Pengakuan Palestina
Perdebatan memasuki inti ketika Feri Amsari menegaskan dukungan Indonesia terhadap Palestina didasari relasi historis.
“Kalau tidak ada dukungan tokoh Palestina terhadap diplomasi kita, belum tentu juga proses pengakuan berjalan cepat,” kata Feri.
Ia menyebut kontribusi Muhammad Ali Taher dan dukungan moral dari Palestina terhadap Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Abu Janda membantah. “Ngga ada hutang sama Palestina, utang apaan bang? Jangan ngaco,” tegasnya.
Menurutnya, klaim Palestina sebagai pihak pertama yang mengakui Indonesia tidak sesuai fakta karena secara formal negara Palestina belum berdiri pada 1945.
Ketegangan dan Pengusiran
Perdebatan berubah menjadi saling sindir. Feri menyebut lawannya terlalu emosional dan keliru memahami sejarah. Abu Janda membalas dengan nada tinggi dan kata-kata kasar.
Moderator Aiman Widjaksono beberapa kali mengingatkan agar diskusi tetap kondusif. Namun situasi tidak mereda.
“Saya ingatkan ini ruang publik,” ujar Feri meminta ketertiban forum.
Aiman akhirnya menghentikan perdebatan dan meminta Abu Janda keluar dari studio.
Respons Publik Meluas
Insiden ini memicu perdebatan baru di media sosial, termasuk tanggapan dari penceramah Felix Siauw yang menyindir gaya debat tersebut sebagai bentuk “gaslighting”.
Peristiwa ini kembali membuka diskursus tentang tafsir sejarah kemerdekaan Indonesia, posisi diplomasi Indonesia terhadap Palestina, serta batas etika dalam debat publik di televisi nasional.













